Riwayat Musik Keroncong (part 1)

Berbicara keroncong mungkin ini musik yang riwayatnya cukup panjang, saking panjangnya cerita ini harus di bagi dalam beberapa part :D, enjoy dulu bagian pertamanya ya.

Dari Portugis ke Jawa

Di Portugal-negeri, yang disebut sebagai asal musik keroncong, gaya yang dimainkan grup musik Kroncong Toegoe disebut moresco. Hingga kemudian masyarakat di Indonesia menyebutnya sebagai keroncong Moresko. Grup musik Krontjong Toegoe, yang dulu dikenal dengan pemusik-pemusiknya yang rata-rata berusia lanjut, sekarang sudah beranggota generasi baru.

Meski Kampoeng Toegoe sudah tidak lagi seperti dulu, sementara orang-orang Tugu pun sudah banyak yang pindah, namun lewat musik yang dikenal sebagai Krontjong Toegoe masih bisa berwisata ke masa lalu. Paling tidak, sekarang ada anak-anak muda Kampoeng Toegoe yang menjadi motor penggerak grup musik Krontjong Toegoe.

Kehadiran keroncong ini berawal dari jatuhnya Malaka dari Portugis ke tangan Belanda pada abad ke 16, sekitar tahun 1590. Orang-orang Portugal yang umumnya tentara keturunan berkulit hitam berasal dari Bengali, Malabar, dan Goa, ditawan dan dibawa ke Batavia. Baru sekitar tahun 1661 mereka dibebaskan setelah diangap tidak berbahaya dan tetap dibiarkan memiliki senjata yang sebelumnya dipergunakan untuk perang. Senjata-sejanta itu kemudian menjadi alat pencari nafkah, yaitu berburu babi hutan.

suasana Kampung Tugu sekarang





Mereka bemukim di rawa-rawa teluk Jakarta yang sedang berkecamuk wabah malaria dan influensa. Kawasan itu dinamakan Belanda Tanah Mardika. Dari sinilah menurut Prof. Mr. Dr. Soekanto dalam bukunya Dari Djakarta ke Djajakarta, asal nama mardijker (bahasa Sansekerta mahardhika yang berarti merdeka). Nama itu pada jaman penjajahan Belanda diberikan ke pada budak yang mereka bebaskan, vrijgelentene, yakni yang telah dimerdekakan.

Banyak dari orang-orang Portugis bekas tawanan itu pindah ke kawasan lain Jakarta, antara lain Kemayoran. Mereka yang pindah itu berasimilasi dengan golongan Tionghoa dan Belanda. Sementara yang tetap berada di Tanah Merdeka membentuk komunitasnya sendiri, mardikers dan membangun komunitas yang kemudian dikenal sebagai orang Kampoeng Toegoe, dengan pekerjaan sebagai bertani, berburu, dan mencari ikan.

Sebagaimana budak-budak asal Afrika di Amerika yang di kala senggang seusai mengerjakan sawah-ladang atau berburu mengisi waktunya dengan bermain blues, musik ratapan kaum tertindas, begitu pula dengan para mardikers. Dengan peralatan sederhana berupa alat musik petik mirip gitar kecil berdawai lima yang mereka sebut matjina serta djitera (gitar), seruling dan rebana mereka memainkan lagu-lagu dari tanah kelahirannya, dengan musik yang dominan suara crong…crong…crong dari matjina, yang kemudian dikenal sebagai ukulele.

Mereka berusaha membangun suasana gembira di tengah penderitaan sebagai bekas orang buangan di serambi rumah, bawah pohon sambil menikmati indahnya bulan purnama dan sepoi-sepoi angin pesisir membawakan lagu Moresco:

"Anda-anda na boordi de more, Mienya corsan nunka conteti, Yo buska ya mienya camada, Nunka sabe ele ya undi, Yo buska ya minya amada, Yo buska ele tudu banda, isti corsan teeng tantu door, Yo pronto fula e strella, booster nunka ola un tenti? Fula e strella nunka reposta, Mienya corsan nunka contenti, O bie oki mienya amada, Mienya noiba, moleer bonito, Yo espara con esparansa, E canta cantigo moresco(Berjalan-jalan di pantai, Hatiku gundah gulana, Aku mencari kekasih, Entah berada di mana,Kucari kekasihku, Calon isteri jantung hati, Kucari dimana-mana, Hatiku teramat duka, Kutanya bunga dan bintang, Kau lihatkan seseorang? Bunga dan bintang tak menjawab, Hatiku gundah gulana, O datanglah kekasihku, Calon istriku, O juwitaku, kunanti penuh harapan, Sambil berdendang lagu Moresco).

Syair lagu Moresco berbahasa Portugis dengan dialek Tugu ini diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh A.Th Manusama pengarang buku Krontjong als muziekinstrument, als melodie en als gesang (penerbit Boekhandel G. Kolff & Co, Batavia, 1919). Dari bahasa Belanda Kusbini menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.

Menurut A,Th Manusama lagu Moresco berasal dari kata Moor, yakni golongan bangsa Arab yang banyak mepengaruhi jalan sejarah dan kebudayaan Eropa Selatan dan Asia. Bangsa Moor pernah menguasai semenanjung Iberia yang terletak antara laut Atlantik dan laut Mideterania di barat-daya Eropa pada bada ke 8, sekarang kawasan ini dikuasai Spanyol dan Portugal. Bangsa Portugis menggolongkan lagu tersebut sejenis lagu gondala (em>gondel lied), lagu pendayung sampan.

Sementara Amir Pasaribu dalam bukunya Musik dan Selingkar Wilayahnya menyatakan moresko berasal dari sebuah tarian Portugis, moreska. Lagu Moresko bersama 

Nina Bobo, Prounga dan Cafrinho bisa dikatakan adalah lagu-lagu keroncong pertama, yang oleh Kusbini disebut keroncong Portugis, untuk membedakan dengan keroncong asli Indonesia yang lahir kemudian.

Kampung Tugu terletak di sebelah utara - timur pelabuhan Tanjung Priok dan terbagi 2 kelurahan, Kelurahan Tugu Utara dan Kelurahan Tugu Selatan yang dibelah jalan Pelumpang Semper dan flyover jalan Tol Pelabuhan. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Lagoa dan Kelurahan Kalibaru, sebelum berhadapan dengan Laut Jawa.

Kawasannya ini tentu bukan lagu rawa-rawa, melainkan sudah menjadi tempat permukiman yang padat penduduk dengan segala fasilitas kehidupan modern seperti Rumah Sakit Tugu, Komplek Perumahan Imigrasi, Komplek Pertamina, gereja, kelenteng, masjid, sekolah, pasar dan komplek Kramat Tunggak yang sekarang menjadi Islamic Center. Lokasinya lebih mudah dicapai dari Kawasan Berikat Nusantara (Nusantara Bonded Warehouse) Cakung. Telusuri saja jalan Cacing (Cakung - Cilincing), begitu bertemu jalan Tugu Raya belok ke kiri. Setelah bertemu pasar dan Rumah Sakit Tugu, di sanalah pemerintahan penjajah Belanda membuang serdadu Portugis yang kalah perang sekitar 4 abad silam.

Waktu itu Kampung Tugu ditempuh melalui sungai Cakung dan Kali Semper. Setelah menyusuri pantai Cilincing dari pelabuhan Pasar Ikan. Meskipun tidak dilakukan lagi, sekarang juga sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sama. Tapi tentu saja dengan tersedianya jalan sebagai transportasi masa kini cara bersampan yang dulu itu nyaris tidak dilakukan lagi, kecuali oleh para nelayan penangkap ikan. Sampan-sampan yang memasuki kali Cakung pada jaman Belanda, sejak kedatangan Jepang tahun 1942 tidak berfungsi lagi.

Disebut Kampung Tugu karena nama Tugu dimaksudkan sebagai tanda batas, versi lain mengatakan Tugu berasal dari kata Portugis, por tugu esa. Dari latar belakang sejarah, katanya di sana pernah ditemukan sebuah batu berukir berbentuk krucut bundar dan bertulis huruf Palawa dalam bahasa Sansekerta dari abad ke 4 dan ke 5 Masehi. Batu itu kemudian disebut sebagai Prasasti Tugu.

Adolf Heuken SJ dalam bukunya Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta(Yayasan Cipta Loka Caraka, 1997) menyebutkan bahwa Prasasti Tugu merupakan peninggalan arkeologis paling tua, yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat. Batu-batu besar serupa, yang bertuliskan nama Raja Purnawarman, ditemukan di tempat-tempat lain di Jawa Barat. Raja ini memerintah sebuah kerajaan yang disebut Tarumanegara. Nama itu mungkin berkaitan dengan nama sungai Citarum, yang mengalir melalui Bendungan Jatiluhur dan bermuara di Laut Jawa, 20 kilometer timur laut dari Tugu.

Tempat ditermukannya Prasasti Tugu disebut Batu Tumbuh, prasastinya sendiri sudah disimpan di Museum Nasional sejak tahun 1911. Yang memiliki nilai sejarah paling tua di Kampung Tugu sekarang adalah sebuah gereja yang berusia sekitar 3,5 abad, yaitu Salib Suci. Bangunannya memang bukan berasal dari abad ke 17, melainkan sudah dibangun kembali dua kali hingga bentuknya yang sekarang.

Meskipun bangunannya yang asli telah beberapa kali direnovasi, sepintas bentuknya mirip bangun yang pertama, sederhana. Dinding dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, pendiri gereja, Melchior Leydecker.

Gereja yang dibangun tahun 1678 itu awalnya terbuat dari kayu Tahun 1738 diperbaik karena rusak dan lapuk, disebut Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini. Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang rusak akibat sebuah peristiwa kerusuhan. Lonceng gereja yang ada saat ini adalah replika lonceng yang dibuat bersama gereja kedua.

Kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Tugu sekarang ini tidak berbeda penduduk ibukota lainnya. Tapi sekarang warga keturunan Portugis menjadi minoritas, karena padatnya penduduk pendatang. Keluarga Andre J Michiels yang tinggal tidak jauh dari Gereja Tugu atau keluarga Martinus Cornelis yang rumahnya berada paling timur di seberang Jalan Cacing, mereka memang terpencar sejak dulu. Ketika nenek moyang mereka mendiami tempat itu pada tahun 1661, masih berupa rawa-rawa. Lalu mereka mengolah lahan menjadi sawah atau kebun.

Di samping bertani, dulu keturunan Portugis di Kampung Tugu juga menangkap ikan di kali atau di laut. Mereka berburu babi hutan atau celeng di hutan-hutan sekitarnya. Hasil buruan mereka yang kemudian dibuat dendeng asin, dikenal sebagai dendeng Tugu yang lezat dengan kualitas yang sulit dicari tandingannya.

Sebagai daerah pertanian, kala itu Kampung Tugu memiliki tradisi pesta panen yang biasanya dilakukan setelah selesai menuai padi di sawah. Dalam pesta yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus itu, warga menyisihkan sebagian hasil panennya, ternak, atau hasil kebunnya kepada gereja.

Gereja-melalui panitia yang dibentuk kemudian menjual buah panen itu dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan gereja. Seiring tergusurnya daerah pertanian dan perkebunan menjadi permukiman padat dan tempat usaha, warga Kampung Tugu tidak mengenal lagi pesta panen.

Hingga menjelang akhir tahun 1990-an, masih ada keroncong keliling oleh anak-anak muda sambil mengunjungi rumah-rumah pada tengah malam Natal. Mereka menyapa setiap rumah dengan nyanyian dalam bahasa Portugis. Lalu saling bersalaman dengan tuan rumah. Pesta Natal berlanjut dengan perayaan Tahun Baru, yang dimeriahkan dengan orkes keroncong. Mereka bermain musik, menyanyi, dan menari. Pada hari Minggu pertama setelah pergantian tahun, diadakanlah pesta mandi-mandi. Sekarang ini tidak ada yang basah dalam pesta mandi-mandi, sebab mereka hanya saling mengolesi bedak cair ke wajah. Mandi-mandi konon adalah simbol saling membersihkan diri dan saling memaafkan.

Festival Kampoeng Toegoe yang rutin di lakukan





Warga keturunan Portugis yang tinggal di sekitar Gereja Tugu tahun 2006 diperkirakan kurang dari 100 keluarga dan sudah berdarah campuran. Tapi tinggal di luar Kampung Tugu atau daerah lainnya, diperkirakan sekitar 200-an keluarga. Jumlah itu sebetulnya sangat kecil dibanding kemampuan mereka bertahan yang hampir empat abad.

Keportugisan mereka mulai pudar meski di tubuhnya tetap mengalir darah Portugis, karena mereka menganut sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal. Banyak yang terpaksa melepas fam (nama keluarga) karena kawin dengan keturunan Manado, Maluku, Timor, Jawa, atau Tionghoa. Pada mulanya terdapat belasan fam di Kampung Tugu. Namun karena faktor perkawinan campur tadi atau karena tidak memiliki anak laki-laki, beberapa fam tidak terpakai lagi. Angkatan ke sembilan dari keturunan Portugis sekarang tersisa enam fam: Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis.

Warga muda Kampung Tugu memiliki tradisi bermain keroncong keliling sambil mengunjungi rumah-rumah warga pada malam Natal. Pemilik rumah baru mau membuka pintu jika pimpinan rombongan telah mengucapkan salam berbahasa Portugis: Pisingku dia di Desember, nasedu di nos Sior jamundu Libra nos pekader unga ananti dikinta ferra asi klar kuma di dia unga anju di Sior asi grandi diallergria. Asi mow boso tar. Dies lobu Sua da bida cumpredae lampang kria so podeer, Santu Justru.(pada tanggal 25 Desember, Tuhan telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Juru Selamat, agar barang siapa yang percaya kepada Dia tidak binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal, dan hendaklah kita dapat menaruh harapan kepada-Nya).

Kebiasaan itu dimaksudkan untuk menghargai peristiwa keagamaan sekaligus untuk menurunkan tradisi berbahasa Portugis di kalangan anak muda. Rosalie Gross dalam bukunya De Krontjong Guitar (Uitgeverij Tong Tong, Den Haag, 1972), A.Th. Manusama dan penerbit Naesens & Co menyatakan bahwa lagu-lagu kroncong yang populer semasa penerintahan Belanda bukanlah lagu-lagu keroncong Indonesia yang berkembang sampai sekarang. Rosalie menjelaskan bahwa kroncong adalah peninggalan Portugis dan Indo Belanda dengan menyebutkan dua tokoh musik yang pernah tinggal di Indonesia, yaitu Paul Seelig (1876-1945) dan Fred Belloni (1991-1969).






Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan bermusik itu terhenti. Sekitar tahun 1970-an, atas inisiatif Yakobus Quiko, didirikanlah Grup Poesaka Moresko Toegoe. Namun, akibat kurangnya minat kaum muda terhadap musik keroncong, grup ini pun perlahan-lahan bubar.

Sekitar tahun 1988, Arend J Michiels yang juga Ketua IKBT (Ikatan Keluarga Besar Tugu), merasa terpanggil untuk mengangkat kembali kejayaan musik keroncong ini dengan mendirikan grup Krontjong Toegoe yang seluruh anggota pemainnya adalah orang-orang muda. Sejak saat itu, dari waktu ke waktu, proses regenerasi dalam grup Krontjong Toegoe selalu dipertahankan.

Empat Michiels bersaudara, Andre yang pada tahun 2006 berusia 39 tahun, Arthur James 37 tahun, Sartje Margaretta 36 tahun dan Milton Augustino 29 tahun, bahu-membahu bersama beberapa anak muda Kampung Tugu lainnya menjaga warisan para leluhur mereka.

Kalau ada tawaran untuk tampil. mengumpulkan pemain memang tidak mudah. Andre terpaksa kerja keras mengumpulkan teman-temannya yang sudah tersebar di berbagai tempat di luar Kampung Tugu, termasuk mencari pemain pengganti karena anggota grupnya pindah bekerja ke kota lain.

Meskipun masih tergolong muda, hampir semua lagu lama yang dicipta para pendahulunya bisa mereka mainkan. Dengan modal banyak bertanya dan mendengar, mereka yang kini bekerja di berbagai bidang kehidupan kota besar itu tetap berusaha melestarikan warisan leluhurnya yang tersisa.

Jika keturunan bangsa Portugis berusaha melestarikan lagu-lagu keroncong dengan bahasa asli mereka, perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa kita juga mampu menghasilkan lagu-lagu keroncong dalam bahasa Indonesia, bahkan hingga berbahasa daerah seperti langgam keroncong dan campusari yang berlirik bahasa Jawa.

Diawali lagu Kembang Kacang tahun 1924 yang disebut sebagai lagu keroncong Extra (tambahan), kemudian lahir eneka jenis lagu langgam Jawa lainnya seperti Tok Lelo Lelo Le Dung, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Cah Ayu Ojo Lamis, Kecik, Kecik, Kopi Susu, sementara dari Jawa Barat kita mengenal Badjing Luncat, Sangkuriang, Es Lilin. Lagu-lagu itu selain berbahasa daerah asalnya juga dipengaruhi kesenian dan budaya masing-masing.

Salah satu langgam keroncong sebagai contoh adalah Caping Gunung, karya Gesang tahun 1973:

Saben bengi nyawang konang, Yen memajang mung karo janur kuning, Kembang wae weton gunung, Pacitan sarwi jenang, Panas udan aling-aling caping gunung, Najan wadon sarta lanang, Minumane banyu bening, Dek jaman berjuang, Nyur kelingan anak alang, Biyen tak openi, Gek saiki ana ngendi, Jarene wis menang, Kuturuan sing digadang, Biyen ninggal janji, Gek saiki opo lali, Neng gunung tak condongi sega jagung, Yen mendung tak silihi caping gunung, Sukur bisa nyawang, Nggunung desa dadi rejo, Nggone pada lara apa.

Dalam bahasa Indonesia berarti: Tiap malam lihat kunang-kunang, Menangkapnya dengan janur kuning, Bunga saja dari gunung, Camilannya serba jenang, Panas hujan memakainya caping gunung, Biar itu wanita atau pria, Saat jaman berjuang, Terus ingat anak negeri, Dulu kucukupi, Tapi kini entah di mana, Katanya sudah menang, tercapai yang dicitakan, Dulu pernah janji, Mungkin dia lupa kini, Di gunung kuberikan nasi jagung, Saat mendung kukenakan caping gunung, Sukur nampak kini, Gunung, desa jadi ramai, Jadi tidak hilang, Bekasnya tempat berjuang.



masih beranjut ke bagian 2 ya...


sumber gambar : rausen Jakarta.go.id tjroeng.com 
(AF)

1 comments:

  1. BONUS DEPOSIT 100% DAN BONUS REFERRAL 50% HANYA DI POKER BETDANWIN
    DENGAN BERMAIN DI POKER BETDANWIN TUNGGU APA LAGI SEGERA DAFTAR ID POKER ANDA HANYA DI WWW.BETDANWIN.COM 100% PLAYER vs PLAYER TANPA BOT,
    WWW.BETDANWIN.COM ADALAH SITUS PERMAINAN POKER ONLINE INDONESIA YANG TERPECAYA
    KELEBIHAN BERMAIN DI POKER WWW.BETDANWIN.COM
    -KUNJUNGI DAN LIKE FANPAGE KAMI https://www.facebook.com/BetdanWin-1071580636209445/?ref=ts&fref=ts
    -DENGAN SERVER YANG BERKECEPATAN TINGGI MEMBUAT PERMAINAN POKER SEMAKIN NYAMAN
    -MINIMAL DEPOSIT HANYA Rp 10.000
    -MINIMAL WITHDRAW 20.000
    -POTONGAN MEJA HANYA 3%
    -MEMBER REFERRAL AKTIF DAPATKAN BONUS REFERRAL 50% SEUMUR HIDUP
    -DATA MEMBER AKAN TERJAGA DAN AMAN
    -DEPOSIT DAN WITHDRAW PALING LAMA HANYA 2 MENIT
    -DAPATKAN JACKPOT HINGGA RATUSAN JUTA RUPIAH
    -DiLAYANI OLEH CUSTOMER SERVICE YANG RAMAH SELAMA 24 JAM

    ReplyDelete

 

Labels

Like Disini Ya

Like di FB : Seven Music
There was an error in this gadget