Penentu Selera Musik Masyarakat dan Industri Musik




Music Director (MD), sebuah profesi yang namanya sering sekali kita dengar. Pada umumnya, orang-orang akan mengasosiasikan MD dengan seseorang yang berkerja pada sebuah radio meskipun sebenarnya MD juga dapat kita temui pada orkestra, film, rekaman dan sebagainya.

Secara harafiah, MD memiliki artian sebagai pengarah musik atau lagu. Sesuai dengan namanya, MD bertugas mengarahkan musik layaknya sutradara pada sebuah film. Pada orkestra, MD memiliki peran penting pada saat proses penciptaan ataupun aransemen lagu. Nah, lalu seperti apa peran MD dalam sebuah radio? Seberapa besar kah perannya terhadap radio itu sendiri?
Salah satu alasan utama orang mendengarkan radio adalah untuk mendengarkan musik. Selain mendengarkan musik, beberapa program radio juga dinanti oleh para pendengar. Dalam program-program itu, pihak radio juga menyisipkan lagu, informasi dan iklan.
MD dalam sebuah radio, bertanggung jawab kepada Program Director (PD) radio mengenai pembagian lagu di tiap-tiap programnya, tepat atau tidak untuk memperdengarkan lagu tipe A di program C. Lagu yang diperdengarkan bisa lagu lama atau pun lagu baru. Untuk lagu baru, MD memiliki peran penting untuk memperkenalkannya kepada pendengar. Mengingat banyaknya musik baru yang masuk ke radio setiap hari, MD juga berperan untuk membuat, menjaga, dan merapikan database musik-musik yang ada di tempat ia bekerja.
Sebuah radio yang baik umumnya memiliki koleksi CD dari segala jenis musik karena akan memperkaya refrensi dan selera musik MD. CD-CD tersebut biasanya didapatkan dari label, baik label lokal, nasional, atau pun internasional. Selain label, radio juga mendapatkan CD-CD dari manajemen artis. Meskipun demikian, berbelanja di retail-retail atau toko CD atau melalui online shopping juga diperlukan agar tidak memiliki ketergantungan terhadap label. Dengan berbelanja CD, MD dan radio bisa mendapatkan lagu dari artis-artis yang tidak dirilis oleh label Indonesia pada umumnya.
Sesuai dengan namanya, MD sebaiknya mengarahkan selera musik para pendengarnya karena tidak semua request pendengarnya wajib diputar. Tidak perlu khawatir akan kehilangan pendengar setia, keseragaman lagu yang diputar karena request yang itu-itu saja justru akan membuat pendengar jenuh. Mengarahkan pendengar untuk mendengarkan lagu lain di luar lagu hit suatu artis justru akan membuat pendengar tidak jenuh. Dengarkan semua lagu yang ada di dalam CD, karena yang layak putar tidak hanya lagu hit saja.
Ada baiknya jika MD juga merupakan seorang musisi karena dengan demikian ia akan lebih mudah memahami beat-beat atau irama dalam sebuah musik. Memiliki selera musik berkualitas? Wajib hukumnya! Setelah mengetahui jenis-jenis dari tiap lagu, mempelajari psikologis pendengar radio juga sangat penting. Dengan adanya kombinasi tiga hal tersebut, MD akan mampu menyajikan musik berkualitas yang sesuai saat orang-orang berangkat atau pulang kantor, istirahat sore-sore dan sebagainya.
Jadi seorang MD itu menyenangkan, apalagi kalau memang benar-benar hobi musik. Mendengarkan musik lalu diputar ke pendengar. Digaji? Sudah pasti. Kalau bukan MD, kerjaan apa hayo? Hehe
Jadi Beda itu Asyik
Saya sebenarnya prihatin apabila ada MD yang bilang kalau tidak sempat untuk mendengarkan lagu. Music Library yang ada di radio akan mubazir kalau tidak diputar. Kalau tidak mau mendengarkan berbagai refrensi musik, MD akan jadi tidak mendidik selera pendengarnya dan terkesan tidak mau menghargai karya musik.
Ada baiknya MD membuat tangga lagu (chart) berdasarkan pilihan pribadinya, bukan hanya berdasarkan adanya request pendengar atau pun tuntutan label. Coba perhatikan musisi-musisi dunia pada sebuah ajang penghargaan, mereka selalu berterima kasih kepada radio. Mengapa? Karena di sana, lagu diputar di radio terlebih dahulu sebelum video klipnya ditayangkan di TV. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di Indonesia. Karena tuntutan label, lagu yang jauh secara kualitas justru dimasukkan ke dalam chart radio dan hampir di seluruh radio. Sebagai MD, mestinya ia tidak bangga karena radio tempat ia bekerja memiliki kesamaan lagu dengan radio lain. Sebagai pendengar, saya sendiri jenuh mendengarkan lagu yang sama diputar berkali-kali di radio lain.
MD dapat memperkaya refrensi musiknya melaui internet yang dapat diakses dengan mudah saat ini. Dengan adanya internet, MD dapat bergabung dengan milis musik, membaca perkembangan musik lokal yang ada di webzine, mantengin buffering video konser musik atau band di youtube, bahkan mendengarkan siaran live streaming radio indie lokal atau bahkan luar negeri.
Selain melalui internet, informasi juga dapat diperoleh melalui berkumpul dengan para musisi atau pekerja musik untuk berdiskusi atau sekedar menambah refrensi, bukan untuk bergaya saja. Informasi musik seputar artis yang lagunya diperdengarkan juga perlu untuk dibagikan atau di-share ke pendengar.
Sejatinya, musik itu bukan cuma pop, mellow, atau melayu. Membuat program musik dengan bloking time satu atau dua jam yang diisi musik-musik dari band indie dengan aliran rock, reggae, metal, jazz, dan sebagainya justru akan menambah pendengar. Dukung terus pergerakan musisi indie lokal karena setiap band indie lokal punya fans yang setia mendampingi band tersebut ke mana pun mereka manggung. Tidak perlu merasa gengsi untuk memutarkan karya mereka, karena musisi besar sekarang yang kita kenal dulunya juga bermula dari band lokal yang memutar demo lagu mereka.
Tidak perlu takut untuk membuat musik yang tidak sama dengan musik yang diputar di radio lain. MD semestinya bangga karena radio tempat ia bekerja menjadi berbeda dengan radio lain dan semestinya pihak manajemen radio mengetahui dan memikirkan hal ini. Membuat acara-acara musik on-air dengan menginterview musisi lokal atau membuat event musik off-air seperti meet & greet dengan penggemarnya akan sangat membantu sekali dalam menambah jumlah pendengar. Selain itu, para musisi juga merasa terbantu karena karya mereka semakin banyak didengar.
Untuk mendukung kinerja dari MD, manajemen radio juga harus memperhatikan fasilitas dan kesejahteraan MD yang memadai. Hal itu juga bisa dilakukan dengan menjual program musik kepada sponsor dan pengiklan, hanya lah alasan kalau program musik tidak bisa dijual, asal dibuat dengan konsep yang kreatif dan menarik. Agar fungsi MD dapat lebih fokus & profesional, kerja sama ad-libs atau spot radio dengan label sebaiknya dilakukan bukan melalui MD tapi melalui marketing, yang sudah barang tentu berdasarkan materi lagu yang telah disejutui MD sesuai dengan selera dan segmentasi radio. Hal ini juga dapat menjaga nama baik radio di kalangan pendengar dan klien.
Terakhir, mari kita bangun musik Indonesia agar lebih maju dan berkualitas. Sukses selalu dan penuh semangat untuk seluruh MD di Indonesia, mohon maaf sebelumnya dan terima kasih.
 Tentang Penulis : 
Sam Alatas pernah bekerja sebagai Music Library  di radio Trijaya, dan Music Director  di Radio S1079FM, M97FM (Masima Group), dan SK FM. Selain sebagai salah satu kekuatan promosi di RMV Records, pendiri Komunitas Pekerja Musik Independent Indonesia ini juga suka aktif serabutan sebagai Freelance Media Relation pada event lokal & konser Internasional  Story of The Year, Rufio, Rick Astley, Kenny G, Iron Maiden, Kitaro, Jakarta Blues Festival  2009, Indonesia Reggae Festival 2011, Rockvolution Music Festival 2011. Sam Alatas dapat ditemui di @SamRock80

0 comments:

Post a Comment

 

Labels

Like Disini Ya

Like di FB : Seven Music
There was an error in this gadget